Seorang cewek dengan wajah basah penuh air mata berkata dengan lembut, seakan seluruh energi tubuhnya udah enggak ada, “aku udah gak bisa bertahan lagi... aku pengen kamu pergi dari aku... sekarang juga.”.
Si pria yang jadi objek ucapan cewek tadi Cuma bisa tertegun dan bilang “kenapa bisa? Kenapa kamu sebenci itu sama aku?”
Dan seketika cewek ini melepaskan segala keluh kesahnya yang selama ini terasa begitu mengganjal seluruh hidupnya dengan nada tinggi, “kamu gak pernah menghargai aku... segala yang aku lakukan buat kamu, pengorbanan aku, waktu, tenaga, pikiran, bahkan tubuh aku yang udah aku berikan buat kamu sebagai sebuah kewajaran... seakan2 emang udah seharusnya aku seperti itu, dan kamu enggak perlu membalasnya... (dan seketika pula nada suaranya menurun sampai2 ida harus menyelesaikan kalimat terakirnya dengan parau) bahkan untuk sekedar menghormatinya”
“tapi kamu enggak pernah bilang... “ kata pria itu, masih belom bergeser sesenti pun dari tempatnya tadi... rupanya kata2 cewek tadi benar2 menamparnya dan merontokan seluruh egonya dan kesombongannya...
“Cukup... aku Cuma minta,, tinggalin aku saat ini”
“aku harap,,, aku bisa melalukan sesuatu untuk kamu... aku harap aku bisa memeluk kamu saat ini... tapi sepertinya kamu enggak akan sudi disentuh sama aku....”
Tiga menit tanpa ada sesuatupun terjadi kemudian, “kalo gitu aku pergi dulu....”
Tau nggak, saat wanitamu bilang “aku udah capek... aku pengen kamu pergi... tinggalin aku sendiri...” ,,, bukan berarti dia memang pengen kamu pergi dari dia.
Dia pengen kamu tetap disitu, merayunya.... dia pengen kamu *berjuang* untuk dia.. dia pengen merasa kamu membutuhkan dia.
Dan sikap seperti demikian bukanlah sikap lelaki pecundang yang *butuh2 amat*, alias needy ato ngarep.
Ada kalanya kita membuang egoisme, dan tau bedanya gengsi dan renda hati. Apalagi untuk wanita yang kita cintai.
Tau nggak, saat wanita menangis karena dia merasa sangat terluka, hal yang paling dia butuhkan saat itu adalah pelukan dari kamu. Bukan kata2 penjelasan dari kamu.
Karena bagi dia, tempat paling aman paling nyaman di dunia ini adalah dipelukanmu.
Peluk dia dengan seluruh ketulusan yang kamu punya dan cium dia di keningnya. Itu saja.
Memang.. kata2 cinta itu lebih dari kata2 “i LovE U, aishiteru, wo ai ni, ich liebe dich, je aime, awak ku tresno kowe, dan gua demen sama eLu !!!” ...
Tapi ketika kata2 itu udah jarang lagi diucapkan.. ketika kata2 mesra dilupakan dan dianggap tidak lagi diperlukan, saat itulah bakal fase dimana hal2 kecil bisa berobah jadi besar, dan hal2 gak penting berobah jadi penting..
Fase dimana toleransi makin menyusut, dan yang biasanya kita dengan senang hati dan “voluntary” (dengan suka rela) melakukan segala sesuatu untuk orang yang kita cintai, jadinya kita itung2an apa aja yang kita berikan dan apa aja yang udah kita lakukan.
Dan hal GAK PENTING itu berobah jadi SEGALANYA yang perlu dibicarakan... lebih dari “aku cinta kamu... kamu cinta aku,, kita butuh waktu untuk berobah jadi lebih baik untuk satu sama lain”
Dan akirnya udah enggak ada toleransi lagi di sepasang putra putri adam-hawa ini... sehingga enggak mao mikir lagi jalan laen selaen keputusan untuk berpisah.
Masing2 akan berusaha untuk menyakiti satu sama lain dan melakukan apapun caranya agar pasangannya merasa kehilangan.. sok2 punya gebetan (bahkan sampe pacaran) laen hanya untuk membuat pasangannya cemburu...
Semua nya dilakukan dengan harapan pasangannya merasa HANCUR dan akirnya memohon agar dia bisa kembali padanya..
Padahal yang ada, dia makin benci padanya dan membalas melakukan apa yang dia lakukan.
Yang ujung2nya satu sama lain makin sakit, makin benci, dan makin gak kenceng nangisnya didalem hati...
Sampe2 rasanya pengen berkata dengan kencang didepan muka dia, “UDAH CUKUP !! KAMU MENANG. KAMU UDAH BIKIN AKU CEMBURU DAN TERLUKA. SEKARANG HENTIKAN DIRIMU DENGAN SI B*JING*N ITU, DAN KEMBALILAH PADAKU !!”
Dan berharap suatu saat (dalam waktu dekat malah) bisa bertemu dengan situasi yang berbeda, memulai semuanya dari nol.
Dan saat kamu pulang malem, secara enggak sengaja kamu ngeliat langit malem itu sangat bersih dan gak ada awan sama sekali, kamu inget masa2 kamu tiduran di teras...
Berbicara ngelantur sambil mandangin bintang dan bulan yang sekan2 berkonspirasi ngebuat malem itu jadi indah banget.
Lalu bertanya2, adakah jalan untuk kembali?
Mungkin keliatannya notes ini KROCO banget... alay banget... dan gak ada isinya.
It’s oke..
Untuk menjadi renungan. Dan insya Allah bermanfaat.
By : Andra Benk.

0 komentar:
Posting Komentar